CNP Indonesia News – Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, disiram air keras oleh dua orang tak dikenal di Jalan Salemba IāTalang, Jakarta Pusat, pada Kamis (12/3) malam.
Pelaku penyiraman air keras kepada Andrie itu terekam CCTV di area lokasi terjadinya tindak kekerasan tersebut. Tangkapan layar dari CCTV yang menunjukkan pelaku pun tersebar dengan cepat di media sosial.
Namun, hasil tangkapan layar itu jelas memperlihatkan gambar yang buram, karena mengikuti kualitas resolusi CCTV yang memang terbilang rendah, jika dibandingkan dengan kamera profesional lain.

Terdapat pihak-pihak tak bertanggung jawab yang meminta bantuan Artificial Intelligence (AI) untuk mengubah foto yang buram itu menjadi foto yang lebih jelas. Hal ini pun bisa menimbulkan kembali masalah, seperti wajah pelaku yang kini tak bisa dipastikan kebenarannya, karena telah mengalami rekonstruksi digital menggunakan AI.

Pakar IT, Abimanyu Wachjoewidajat, mengatakan foto di atas sudah mengalami rekonstruksi digital.
1. Tekstur yang terlalu halus (Smoothing)
Foto ini memang menunjukkan ciri-ciri rekonstruksi digital atau pemrosesan gambar yang kuat. Area kulit, pakaian, dan permukaan motor tampak sangat halus atau “licin,” yang sering kali merupakan hasil dari algoritma denoising (penghilang noise) atau upscaling untuk menutupi rendahnya resolusi asli rekaman CCTV.
2. Distorsi detail
Pada bagian wajah dan tangan, detail alaminya tampak hilang dan digantikan oleh bentuk yang agak “berlumpur” atau terdistorsi. Ini biasanya terjadi ketika perangkat lunak mencoba “menebak” detail yang hilang dari gambar beresolusi rendah.
3. Ketajaman yang tidak alami (Artificial Sharpening)
Garis tepi pada objek (seperti helm dan badan motor) terlihat sangat tajam namun tidak memiliki tekstur yang realistis, yang merupakan efek samping umum dari proses sharpening digital setelah upscaling.




















